Bagaimana Cara Menjadi yang Terbaik Di Segala Hal?

2 years ago / 2278 Views

Start with excellent mindset

(sumber: stocksy.com)

Berbagai penelitian tentang key success factors membuktikan bahwa mindset atau “pola pikir” adalah faktor kunci yang menentukan perilaku dan hasil setiap orang. Hasil excellence sangat ditentukan oleh pola pikir excellence.

Kisah tokoh seniman besar abad pertengahan, Michelangelo sangat gamblang menjelaskan tentang pola pikir excellence. Jauh sebelum dirinya terkenal, seniman asal Italia yang banyak menghasilkan karya-karya indah berupa patung, lukisan, dan berbagai maha karya seni ini pernah membuat sebuah pot bunga istimewa. Saat membuatnya, Michelangelo tampak begitu sungguh-sungguh, teliti dan detil mengukir setiap bagiannya. Seorang pejabat kerajaan Italia yang sedang mengamatinya bekerja, merasa heran dengan kesungguhan Michelangelo mengerjakan pot bunga tersebut. Terdorong oleh rasa ingin tahunya, pejabat kerajaan tersebut bertanya kepada Micheangelo, “Untuk apa kotak yang kamu buat itu?”, “Pot bunga” jawabnya singkat. Dengan masih penasaran pejabat itu bertanya lagi, “Mengapa kamu susah-susah membuatny? Bukankah pot itu nantinya akan diisi tanah?”, “Saya menyukai hal-hal yang sempurna” jawab Michelangelo. “Ah tak seorangpun akan memperhatikan kesempurnaanmu. Tidak perlu pot bunga dibuat seindah itu”, kata pejabat kerajaan. “Jiwa saya membutuhkannya”, jawab Michelangelo. Orang dengan pola pikir excellence tidak bisa melakukan pekerjaan yang asal jadi. Dalam setiap aspek hidupnya, orang excellence selalu melakukan yang terbaik dan selalu termotivasi untuk bekerja dan memberikan hasil excellence.

Plan for excellence

(sumber: pexels.com)

Sebelum memulai apapun, yang pertama kali perlu dilakukan adalah medesain rencana dan langkah-langkahnya. Excellence dimulai dari perencanaan yang excellence. Khususnya, merencanakan hal-hal yang ingin kita perbaiki. Kalau kita merasa kurang baik dalam hal ketelitian kerja, maka buatlah rencana perbaikan untuk meningkatkan ketelitian. Hasil yang sempurna seringkali terjadi karena direncanakan sejak awal. Perencanaan yang sempurna akan memperbesar pencapaian yang sempurna.

Focus on what we do

Melalui penelitiannya, Tony Schwarts, wartawan bidang bisnis, penulis buku Be Excellent at Anything: The Four Keys to Transforming The Way We Work and Live, mendapati bahwa multi-tasking itu adalah mitos. Jika kita ingin sungguh-sungguh memberikan hasil excellence kita perlu berkonsentrasi penuh untuk mencapainya. Kita tidak akan efisien dan efektif, kecuali kita fokus dan konsentrasi penuh terhadap tugas atau tujuan tertentu. Memang beberapa jenis pekerjaan dan tugas tertentu, terutama pekerjaan sekunder, bisa dilakukan sambil melakukan hal yang lain. Tapi untuk tugas dan pekerjaan-pekerjaan penting hampir selalu memerlukan fokus perhatian dan konsentrasi yang tinggi.

Deliberate Practice

(sumber: stocksy.com)

Sebagai peneliti di bidang kinerja, Anders Ericsson, profesor psikologi dari Florida State University selama lebih dari 2 dekade penelitiannya, menemukan bahwa bukan hanya bakat atau talenta yang menentukan seseorang bisa mencapai kinerja terbaik (excellence), tapi seberapa keras mereka bersedia melakukan lebih dari yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Inilah yang disebut sebagai “deliberate practice”, yaitu kemauan luar biasa untuk melatih diri melakukan usaha sungguh-sungguh melebihi yang biasa.

Menurut prof. Ericsson, semua orang punya kapasitas untuk membentuk hasil yang terbaik. Hal terpenting untuk mencapai excellence adalah kemauan sungguh-sungguh untuk melakukan lebih dari standar yang ada.

Dalam sebuah wawancara untuk penulisan buku The Millionaire Next Door, ribuan jutawan Amerika yang diwawancarai tentang faktor penentu suksesnya, mayoritas mereka (85%) mengatakan mereka tidak istimewa dan tidak lebih pandai dari orang lain, tapi mereka bekerja lebih keras daripada orang lain untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Michael Jordan, pemain bola basket yang berprestasi unggul di tingkat dunia, saat ditanya tentang kunci keberhasilannya, ia menjelaskan, “saya memiliki harapan yang lebih besar daripada orang lain terhadap diri saya. Saat pelatih meminta saya berlatih 3x seminggu, saya akan berlatih 5x seminggu. Ketika pelatih berharap saya dapat mencetak 15 angka dalam setiap pertandingan, saya akan mencetak 36 angka” Aktivitas deliberate practice ini membentuk mental dan komitmen yang sangat tinggi terhadap hasil excellence.

Feedback for excellence

(sumber: stocksy.com)

Inilah faktor penting yang membuat seseorang selalu bisa memberikan hasil excellence, yaitu dapat mendapatkan feedback yang tepat untuk mencapai excellence. Tidak hanya komitmen dan kesungguhan untuk melakukan yang terbaik, tapi diperlukan kemampuan untuk mengetahui dan mendapat feedback tentang hasil yang telah dicapai. Sudahkah hasil yang kita capai ini benar-benar sempurna? Masih bisakah disempurnakan menjadi lebih baik lagi?

Tiger Woods, pemain golf profesional yang sukses menjuarai berbagai pertandingan tingkat dunia, terkenal memiliki kemampuan permainan yang sangat baik. Namun dalam salah satu pernyataannya kepada publik, dia mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa dari apa yang dicapainya. “I improve, therefore, I am,” pengakuan Woods itu menunjukkan bahwa kehebatannya ditentukan oleh berbagai perbaikan yagn dilakukannya melalui latihan ebrkali-kali. Bukan hanya total akumulasi latihan, tapi feedback yang tepat untuk melakukan perbaikan yang perlu dilakukannya. Banyak latihan akan tidak efektif jika tidak mendapat feedback untuk melakukan perbaikan yang menyempurnakan.

Devote to excellence

Latihan dan feedback perbaikan itu termasuk juga rangkaian kegagalan yang dialami untuk menghasilkan hasil yang excellence. Totalitas untuk menghasilkan kinerja yang terbaik adalah ketangguhan menghadapi kegagalan dan bangkit lagi melakukan koreksi untuk mencapai hasil yang sempurna. Pencapaian hasil yang excellence adalah pengabdian total dan kesanggupan untuk menghadapi semua kesulitan, tantangan dan persoalan yagn ahrus diatasi sampai benar-benar mencapai kesempurnaan.

Excellence at your strength

Zachary Hambrick, profesor psikologi dari University of Michigan yang juga meneliti tentang kinerja menemukan bhawa segala usaha yang dilakukan perlu diarahkan kepada syarat kemampuan yang diperlukan. Jika tidak sesuai dengan kemampuan yang diperlukan, apapun usaha dan latihan yang dilakukan tidak akan menjamin hasil yang excellence.

Apa yang disampaikan Prof. Hambrick tersebut bisa juga diartikan bahwa orang yang sudah melakukan segala yang terbaik akan mencapai hasil yang sangat sempurna dan super excellence jika segala usahanya tersebut diarahkan kepada sumber-sumber kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya. Sehebat apapun seseorang berusaha mencapai hasil excellence, hasilnya tidak akan maksimal jika pikiran, tenaga, dan segala usahanya tidak diarahkan kepada sumber-sumber kekuatan dan potensinya.

Latest News