Kelas Menengah Indonesia, Siapakah Mereka?

7 months ago / 689 Views

(Sumber: https://www.cnbc.com/id/)

(Sumber: https://www.cnbc.com/id/)

 

Faktanya, jumlah kelas menengah di tanah air melesat dramatis, dari 45 juta di tahun 2000 menjadi 100 juta di tahun 2014, sehingga terjadilah middle class explosion. Dan consumption spending dari kelas menengah itulah yang selama ini menggerakan ekonomi Indonesia: membuat parkir mall penuh setiap weekend. Dan penilaian para ahli, pada 2030 nanti, nilai konsumsi kelas menengah Indonesia akan jadi terbesar no. 4 di dunia setelah India, China, dan USA.

Untuk menganalisa perkembangan bisnis, fenomena pertumbuhan kelas menengah penting dipelajari. Mengapa? Karena revolusi kelas menengah mengubah wajah konsumen dan dunia pemasaran di Indonesia, menurut Yuswohady dan Kemal E Gani, penulis buku 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia Pustaka Utama, 2015).

Untuk mengetahui secara jelas sosok kelas menengah dengan segala perubahannya, Middle Class Institute (MCI) mengadakan berbagai riset. Riset ini bertujuan mengetahui gaya hidup, nilai-nilai, harapan, persepsi hidup, perilaku, dan pola konsumsi kelas menengah di Indonesia. Survei yang didesain untuk menguak karakteristik masyarakat kelas menengah Indonesia yang layak disimak. Menurut Yuswohady, ada 8 wajah karakter segmen kelas menengah Indonesia, yang resume singkatnya bisa disimak di bawah ini:

Pertama, The Aspirator. Wajah kelas menengah ini mewakili karakter idealis, memiliki tujuan, serta menjadi influencer terhadap komunitasnya. Kalangan ini umumnya hadir dari kalangan profesional mapan yang sangat melek terhadap informasi, serta peduli terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Aspirator yang lekat dengan kehidupan sosial, merupakan golongan profesional yang ahli dalam bidang tertentu dan memiliki jabatan yang tinggi. Karena mereka fokus pada keluarga dan pendidikan formal, strategi melalui kampanye efektif dilakukan. Aktivitas mereka pun suka menyampaikan aspirasi melalui kampanye secara online untuk memberikan awareness kepada masyarakat.

Kedua, The Performer. Mereka adalah para pekerja profesional dan entrepreneur yang memiliki ambisi luar biasa untuk membangun kompetensi diri. Biasanya masih pemain baru dan merasa belum mapan dari segi ekonomi. Sisi positifnya adalah self-achiever, mampu menggunakan kompetensi dan keterampilan dengan maksimal, giat melakukan self improvement, melihat persaingan secara positif, dan memiliki misi mencapai kebebasan keuangan.

Untuk mendekatinya, pemilik merek dapat melakukan promosi melalui internet. Karena performer adalah para wirausahawan muda yang dekat dengan teknologi dan informasi dalam pekerjaannya.

Ketiga, The Expert. Sebutan bagai orang yang career-oriented, peduli untuk terus meningkatkan keahlian, sehingga pakar dalam menekuni profesinya. Expert mewakili wajah para profesi seperti dokter, arsitek, konsultan, atau pengacara (termasuk perencana keuangan) yang berusaha menjadi ahli di bidangnya. Orang-orang expert sibuk menekuni bidangnya dan melakukan pekerjaan sesuai dengan passionnya. Sisi negatif mereka tidak memiliki banyak waktu luang, “their life is their career.” Mereka memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi, serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values).

Strategi pemasaran melalui pelatihan dan seminar perlu diterapkan para owner untuk tipe ini karena mereka fokus pada pekerjaan akan tetapi kurang terkoneksi secara sosial.

Keempat, The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penitng. Climber adalah para pegawai pabrik (blue collar), salesman, supervisor, dan sebagainya yang bekerja keras untuk meningkatkan karirnya. Sisi negatifnya cenderung suka gonta ganti pekerjaan, mau mengambil risiko dalam karir, memiliki waktu luang yang sedikit, sering lembur. Sisi positifnya mereka percaya bahwa “career is a journey” dan memiliki nilai kekeluargaan yang tinggi, berjuang untuk keluarga atau “hero of their family.”

Menurut Yuswohadi, untuk tipologi seperti itu perlu diciptakan program yang membangun ingatan dan ekspresi tentang keluarga. Hal lainnya adalah karena mereka tidak punya waktu banyak karena dihabiskan untuk bekerja maka perlu produk yang time edition dan program yang mengarah ke family values.

(Sumber: http://finance.ifeng.com/a/20160310/14262078_0.shtml)

(Sumber: http://finance.ifeng.com/a/20160310/14262078_0.shtml)

 

Trend-setter adalah orang-orang yang ingin menjadi panutan dalam gaya hidup (peripheral lifestyle). Sisi negatif dan sekaligus positifnya adalah trendsetter adalah orang-orang narsis dan self-centered. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali “merasakan” bekerja, atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas, serta kalangan artis dan sosialita.

Mereka mengikuti perkembangan tren baik itu gadget maupun fashion, dan memiliki tingkat pengeluaran besar. Untuk tipe konsumen ini, program pemasaran yang cocok adalah melalui sosial media, iklan, dan majalah digital yang mampu memenuhi kebutuhan informasi mengenai trend yang baru.

Keenam, The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diperlihatkan dalam barang-barang bersifat lifestyle. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Follower yang memiliki daya beli rendah dan sulit untuk mengikuti trend karena kemampuan daya beli tersebut. Namun demikian, mereka pandai bersosialisasi dan umumnya aktif di komunitas dan berkumpul dengan teman-teman. Sisi negatifnya adalah mereka masih labil dan belum memiliki visi yang panjang, sehingga dari segi bisnis bukan pemakai loyal sebuah brand. Sisi positif peduli dengan tampilan fisik, teman adalah segalanya (friends are everything) dan butuh eksistensi. Strategi pemasaran untuk menarik mereka dapat dilakukan melalui internet atau media sosial.

Ketujuh, The Flow-er. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini. Flow-er secara sederhana seperti orang yang tahu permasalahan tetapi belum tahu solusinya, mereka tidak puas dengan kondisi ekonomi sekarang tetapi tidak tahu apa solusinya. Hal ini terjadi karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan, informasi dan teknologi.

Pemilik bisnis untuk mendekati mereka perlu menerapkan strategi yang lebih sederhana dan bertemu langsung dengan konsumen. Mereka adalah tipe yang mengutamakan basic needs, keluarga, agama. Word of Mouth mungkin akan lebih efektif di tipe ini.

Kedelapan, The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedagang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Settler adalah Flow-er yang sudah memiliki kemapanan hidup, contohnya orang-orang flow-er yang dapat warisan dan berhasil menjalankan bisnis. Orang-orang settle memiliki sisi negatif sudah berada di comfort zone dan anti untuk melakukan self improvement.

Seperti pendekatan tipe Flow-er, untuk mendekati mereka pemilik bisnis perlu menerapkan strategi yang lebih sederhana, dengan program tatap muka dengan konsumen. Mereka adalah tipe yang mengutamakan basic needs, keluarga, dan agama. Word of Mouth mungkin akan lebih efektif di tipe ini.

Karena era ini adalah era kelas menengah, pemahaman yang komprehensif tentang tindak tanduk kelompok ini amatlah penting, lebih-lebih kita mengelola bisnis yang menggarap kelas ini. Jadi menyiapkan materi manuver bisnis yang cocok untuk segmen yang akan dibidik merupakan hal penting yang perlu dilakukan.

Sumber:

Swa.co.id

www.kompasiana.com

Latest News